MATARAM – Provinsi Nusa Tenggara Barat terus memperkuat implementasi Kedokteran Keluarga dan Komunitas (KDKMP) melalui penguatan peran Puskesmas sebagai garda terdepan. Memasuki triwulan pertama tahun 2026, Pemerintah Provinsi NTB meluncurkan integrasi sistem data kesehatan berbasis komunitas untuk memantau tumbuh kembang anak secara real-time.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB menyatakan bahwa fokus utama KDKMP tahun ini adalah pada intervensi spesifik di tingkat keluarga. Para dokter keluarga kini dibekali dengan aplikasi pemantauan gizi yang terhubung langsung dengan pusat data di tingkat kabupaten/kota.
Fokus pada Intervensi Komunitas
Strategi ini tidak hanya mengandalkan layanan di dalam gedung Puskesmas, tetapi juga menggerakkan dokter dan tenaga medis untuk turun langsung ke komunitas.
- Deteksi Dini: Tim medis melakukan kunjungan rumah (home visit) untuk memberikan edukasi pola asuh dan sanitasi.
- Pemanfaatan Data: Data dari posyandu diintegrasikan ke dalam peta digital kesehatan daerah untuk memetakan wilayah dengan risiko stunting tinggi.
- Pemberdayaan Kader: Kader kesehatan di desa diberikan pelatihan berkelanjutan mengenai standar pelayanan minimal kesehatan keluarga.
Tantangan Wilayah Terpencil
Meskipun digitalisasi digenjot, tantangan geografis di wilayah pelosok Pulau Sumbawa dan daerah lingkar Rinjani masih menjadi perhatian. Pemerintah daerah kini mulai mengoptimalkan layanan telemedicine yang menghubungkan puskesmas pembantu (pustu) dengan dokter spesialis di rumah sakit pusat daerah.
“Tujuan besar kita adalah memastikan setiap keluarga di NTB, bahkan di daerah terpencil sekalipun, memiliki akses ke dokter keluarga yang memahami riwayat kesehatan mereka secara holistik,” ujar perwakilan Dinas Kesehatan dalam rapat koordinasi di Mataram, Jumat (6/3/2026).
Langkah ini diharapkan dapat menurunkan angka stunting hingga di bawah 10% pada akhir tahun 2026, sejalan dengan target ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat yang dicanangkan Pemerintah Provinsi NTB.
